Assalau'alaikum Bpk Kepala TK Darul Ulum Pulogebang Tahun 1995. Semoga bapak selalu dalam lindungan Allah SWT di alam sana.
Pak, saya ingin mengucapkan terima kasih. Mungkin dulu saya terlalu kecil untuk mengetahui arti berterimakasih kepada Bapak. Pagi itu saya sedang dalam keadaan lemah semangat. Kemudian saya ingat sebuah kata dari tokoh Lio Mao Shin dari film kartun Cooking Master Boy, "kembalilah ke asalmu saat kamu tak tau harus berbuat apa".
Saya Mulai mengingat masa-masa kecil saya. Kemudian saya ingat tentang masa TK saya. Mungkin Bapak masih ingat, dulu saya dilatih menggambar oleh Bapak. Saya ingat waktu itu sebenarnya sedang pelajaran berhitung, namum Bapak memanggil saya untuk berlatih menggambar di ruangan Bapak. Menggambar seekor lumba-lumba yang sedang melompat. Bapak sering memnggil saya untuk latihan menggambar. Dulu saya tidak mengerti untuk apa ini semua. Hal yang mungkin saya rasakan waktu itu adalah bahwa saya merasa senang.
Namun kini saya mengerti. Saya baru sadar apa yang Bapak sudah lakukan. Mulai dari SMP, saya sudah mulai suka dengan menggambar, kemudian di SMA, saya tertarik dengan Design Grafis. Saya semakin senang bermain dengan Bentuk dan Warna. Saya baru sadar bahwa itulah saya. Bapak sudah lebih dulu sadar akan apa yang saya sukai dan dapat saya andalkan. Menggambar dan berkreasi dengan warna dan bentuk adalah sesuatu yang saya mampu kerjakan lebih baik daripada pekerjaan lainnya.
Mulai saat ini saya akan terus mengasah dan mengembangkannya Pak, Terima kasih banyak Pak, Semoga Engkau selalu dalam keadaan baik di sana. Amin
Wassalamu'alaikum
Bintara, 7 November 2010
Muridmu yang lalai
Blog ini dimaksudkan untuk membagi pemikiran pemikiran yang out of box but still in the room yang tertuang dalam tulisan-tulisan ringan.
Cari Blog Ini
Jumat, 17 Desember 2010
Sabtu, 09 Oktober 2010
Pulsa Itu Penting tapi Buku Itu Harus
Kemajuan teknologi telah mengubah pola hidup masyarakat secara luas. Handphone, sampai akhir abad ke-20 merupakan barang tersier bagi banyak masyarakat Indonesia. Namun saat ini, handphone seperti telah menjadi kebutuhan pokok bagi banyak orang. Coba kita lihat di banyak tempat saat ini, tidak hanya orang kantoran yang memiliki handphone, tukang rujak dan ketoprak pun sudah siap menerima pesanan melalui handphone. Sharing Vision (http://www.sharingvision.biz/) memprediksi pertumbuhan pengguna handphone (pengguna seluler) di Indonesia pada tahun 2010-2012 yaitu: pada 2010, jumlah pelanggan diprediksi menjadi 167,7 juta nomor sementara tahun 2011 akan mencapai 184,4 juta dan tahun 2012 akan mencapai 199,06 juta. Jika kita berasumsi bahwa jumlah masyarakat Indonesia saat ini adalah 250 juta jiwa, maka sekitar 67% nya adalah pengguna seluler.
Lantas, apa yang menarik dari prediksi diatas?
Tentunya kita semua tahu bahwa handphone tak akan ada artinya tanpa adanya pulsa. Baik itu handphone yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan sms, ataupun smartphone yang saat ini sedang booming dengan berbagai layanan internetnya. Pulsa pun kini seperti permen yang dijual di warung eceran atau pedagang asongan, begitu mudah didapat. Survei juga membuktikan bahwa remaja merupakan pembeli pulsa tersering dengan nominal 5.000 sampai 25.000 perminggu. Hal ini berarti bahwa seorang remaja, yang bisa dikatakan belum berpenghasilan, mampu menghabisakan 20.000 sampai 100.000 perbulan hanya untuk pulsa. Bayangkan dalam kurun waktu dua belas bulan di tahun 2010 ini, berapa uang yang sudah dikeluarkan untuk pulsa? Bagaimana jika uang sebanyak itu atau paling tidak sebagian dari itu kita belikan buku yang dapat menambah pengetahuan kita?
Pembelian pulsa di Indonesia memang lebih mendominasi daripada pembelian buku. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor diantaranya minat baca buku masyarakat yang rendah dan harga buku yang relatif mahal. Kombinasi dari dua hal ini pada akhirnya akan membuat tingkat masyarakat berpendidikan tinggi di Indonesia beada pada level rendah. Namun kedua penyebab diatas, kini sudah dapat diatasi. Masalah minat baca, dapat disiasati oleh ide-ide cemerlang penulis dan penerbit. Kemudian, penyebab yang kedua dapat ditakhlukan dengan melakukan penghematan dibeberapa hal seperti hemat pulsa.
Bagaimana berhemat pulsa?
Berhemat pulsa dapat dilakuakan dengan berbagai cara diantaranya yaitu:
1. Mengurangi penggunaan pulsa dengan cara mengurangi pemakaian layanan sms, telepon atau internet. Hal ini bukan berarti kita menjadi manusia yang "pelit" terhadap pulsa, tapi kita melakukan penghematan akan hal-hal yang dirasa tidak begitu penting seperti sms iseng, internetan untuk hal yang tidak begitu penting atau pulsa untuk game. Dampak positifnya adalah selain kita dapat menghemat pengeluaran pulsa, kita juga terhindar dari hal-hal yang dapat menyita waktu produktif kita.
2. Menggunkan paket-paket yang ditawarkan oleh operator pulsa (operator seluler). Hal pertama yang dilakukan adalah mengganti nomor seluler kita dengan operator yang sesuai dengan kebutuhan kita. Setelah itu pergunakan sebaik mungkin tawaran menarik dari operator pulsa seperti gratis sms setelah kirim beberapa sms, gratis telepon setelah beberapa menit, dan banyak lagi. Pilih dan gunakan sesuai keperluan dan kebutuhan kita. Ini akan cukup membantu penghematan biaya pulsa. Pemilihan operator yang tepat sesuai kebutuhan kita tentunya akan membuat kita menghemat lebih jauh, bukan?.
3. Bagi kita yang masih juga boros padahal sudah menggunakan paket hemat dan lain sebagainya, maka cobalah ikut dalam bisnis pulsa. Saat ini banyak sekali bisnis-bisnis pulsa yang beredar. Yang paling marak adalah bisnis pulsa elektrik. Cukup bermodal handphone dan sedikit uang, kita sudah bisa memulai bisnis ini. Tapi bukan ini yang saya maksud. Bagi kita yang tidak tertarik dengan bisnis tersebut, kita dapat menggunakan layanan pulsa murahnya untuk kita pakai. Ini karena harga pulsa yag ditawarkan dalam bisnis ini relatif lebih murah dari harga pulsa yang kita beli di counter pulsa. Sebagai contoh sebuah bisnis pulsa elektrik X memberikan harga Rp 9.400 untuk pengisian pulsa nominal 10.000. Bandingkan jika kita beli pulsa tersebut di counter pulsa yang harganya bisa mencapai Rp 11.000 - Rp 12.000. Walupun selisihnya kecil, jika penghematan ini dilakukan akan membawa dampak yang besar untuk waktu yang cukup lama.
Namun tanpa aksi buku yang kita impikan hanya menjadi ilusi. Mulai sekarang kita harus mulai melangkah. Kita hidupkan bersama Gerakan Hemat Pulsa untuk Beli Buku. Mari kita turut andil dalam mencerdaskan bangsa. Teringat kata seorang tokoh Naga Bonar, "APA KATA DUNIA?" kalau Indonesia memiliki banyak manusia tetapi hanya manusia yang menjadi katak dalam kotak. Jadi sebagai penutup note ini saya katakan bahwa
"Pulsa Itu Penting tapi Buku Itu Harus".
Selasa, 31 Agustus 2010
Berubahlah - Kisah Seekor Anak Singa
Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu menggerak-gerakkan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk tfierawat dan melindungi bayi singa itu.
Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, sibayi singa tidak mau berpisah dengan sang
induk kambing. Ia terus mengikuti ke mana saja induk kambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu.
Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak-anak kambing lainnya. Tingkah lakunya juga layaknya kambing. Bahkan anak singa yang mulai berani dan besar itu pun mengeluarkan suara layaknya kambing yaitu mengembik bukan mengaum!
la merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing-kambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa.
Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala. ”Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” Kata induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar.
Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannya diterkam dan dibawa lari serigala.
Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah, ”Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu! Seharusnya bisa mengusir serigala yang jahat itu!”
Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala sebagaimana kambing-kambing lain. Anak singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu tidak kuasa melihat induk kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya dicengkeram serigala. Dengan nekat ia lari dan menyeruduk serigala itu. Serigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor singa di hadapannya. Ia melepaskan cengkeramannya. Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya!
Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras, ”Emmbiiik!”
Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang ancang untuk menyeruduk lagi.
Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing.
Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu! Atau singa bermental kambing itu!
Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya. Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, seperti kambing mengaduh. Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa adalah raja hutan?
Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap menghabisi nyawa anak singa itu. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala terpelanting. Anak singa bangun. Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat!
Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut takut dan ikut merapat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa. Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa itu langsung ikut lari.
Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata, ”Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku tak akan memangsa anak singa!” Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan, ”Jangan bunuh aku, ammpuun!”
”Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak singa!”
Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, ”Tidak aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!” Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing.
Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa. Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, ”Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan!”
”Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!” Tegas singa dewasa.
”Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!”
”Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!” Kata sang singa dewasa. Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan mengaum dengan keras. Ya mengaum, menggetarkan seantero hutan.
Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu.
Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, ”Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!”
Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.
Saya tersentak oleh kisah anak singa di atas! Jangan jangan kondisi kita, dan sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak singa di atas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang dimilikinya. Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasa-biasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya. Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah yang penuh keraguan dan kegamangan. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilikinya.
Saya amati orang-orang di sekitar saya. Di antara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis. Detik demi detik yang dilaluinya adalah kumpulan prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar pula semangatnya untuk
menaklukkannya.
Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka hidup apa adanya karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa dia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar orang-orang yang ketika ditanya,
”Bagaimana Anda menjalani hidup Anda?” atau ”Apa prinsip hidup Anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis,
”Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”
Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi ’mengalir bagaikan air’. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air itu ya hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup ini. Bagaimana cara hidup yang berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka? Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah ’seekor singa’ tapi tidak tahu kalau dirinya ’seekor singa . Mereka menganggap dirinya adalah ’seekor kambing sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing.
Filosofi menjalani hidup mengalir bagaikan air yang dimaknai dengan hidup santai saja, atau hidup apa adanya bisa dibilang prototipe , gaya hidup sebagian besar penduduk negeri ini. Bahkan bisa jadi itu adalah gaya hidup sebagian besar masyarakat dunia Islam saat ini.
Ketika saya pulang kampung, setelah sembilan tahun meninggalkan kampung halaman untuk belajar di Cairo, saya menemukan tidak ada perubahan berarti di kampung halaman saya. Cara berpikir masyarakatnya masih sama. Cara hidupnya masih sama saja. Pak Anu yang ketika saya masih di SD dulu kerjanya menggali sumur, sampai saya pulang dari Mesir, bahkan sampai saat saya berdiri di mimbar ini juga berprofesi menggali sumur. Bu Anu yang dulu kerjanya menjual air memakai gerobak sampai sekarang juga tidak berubah. Mbak Anu yang dulu jualan krupuk sambal di dekat SD sampai sekarang juga masih di sana dan berjualan dagangan yang sama. Bahkan teman-teman yang dulu ketika di bangku sekolah dasar terlihat begitu rajin dan cerdas, yang dulu pernah bercita-cita mau jadi ini dan itu dan saya berharap ia telah meraih cita-citanya sekian tahun berpisah ternyata jauh panggang dari api. Orang-orang yang dulu hidup memprihatinkan ternyata sampai sekarang tidak berubah
Kenapa tidak berubah?
Jawabnya karena mereka tidak mau berubah.
Kenapa tidak mau berubah?
Jawabnya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah. Bahkan kalau mereka tahu mereka harus berubah, mereka tidak tahu bagaimana caranya berubah. Sebab mereka terbiasa hidup pasrah. Hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah. Dan cara hidup seperti itu yang terus diwariskan turun-temurun.
Ada seorang sastrawan terkemuka, yang demi melihat kondisi bangsa yang sedemikian akut rasa tidak berdayanya sampai dia mengatakan,
”Aku malu jadi orang Indonesia!”
Di mana-mana, kita lebih banyak menemukan orang orang bermental lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang-orang yang tidak tahu potensi terbaik yang diberikan oleh Allah kepadanya. Orangorang yang rela ditindas dan dijajah oleh kesengsaraan dan kehinaan. Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup merdeka, jaya, berwibawa dan sejahtera. Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental kambing. Meskipun sebenarnya mereka adalah singa! Banyak yang minder dengan bangsa lain. Seperti mindernya anak singa bermental kambing pada serigala dalam kisah di atas. Padahal sebenarnya, Bangsa ini adalah bangsa besar! Ummat ini adalah ummat yang besar!
Bangsa ini sebenarnya adalah singa dewasa yang sebenarnya memiliki kekuatan dahsyat. Bukan bangsa sekawanan kambing. Sekali rasa berdaya itu muncul dalam jiwa anak bangsa ini, maka ia akan menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah singa yang tidak boleh diremehkan sedikitpun. Bangsa ini sebenarnya adalah Sriwijaya yang perkasa menguasai nusantara. Juga sebenarnya adalah Majapahit yang digjaya dan adikuasa. Lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak mungkin disangkal, adalah ummat Islam terbesar di dunia. Ada dua ratus juta ummat Islam di negeri tercinta Indonesia ini.
Banyak yang tidak menyadari apa makna dari dua ratus juta jumlah ummat Islam Indonesia. Banyak yang tidak sadar. Dianggap biasa saja. Sama sekali tidak menyadari jati diri sesungguhnya. Dua ratus juta ummat Islam di Indonesia, maknanya adalah dua ratus juta singa. Penguasa belantara dunia.
Itulah yang sebenarnya. Sayangnya, dua ratus juta yang sebenarnya adalah singa justru bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan layaknya singa. Lebih memperihatinkan lagi, ada yang sudah menyadari dirinya sesungguhnya singa tapi memilih untuk tetap menjadi kambing. Karena telah terbiasa menjadi kambing maka ia malu menjadi singa! Malu untuk maju dan berprestasi!
Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap menjadi kambing itu menginginkan yang lain tetap menjadi kambing. Mereka ingin tetap jadi kambing sebab merasa tidak mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Yang menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa. Bahkan mereka ingin orang lain jadi kambing yang lebih bodoh!
Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah telah memberi predikat kepada kita sebagai ummat terbaik di muka bumi ini. Marilah kita bermental menjadi ummat terbaik. Jangan bermental ummat yang terbelakang. Allah berfirman,
”Kalian adalah sebaik baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.!”
Ketika Cinta Bertasbih 2 - 29 Dan Cinta Pun Bertasbih
Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, sibayi singa tidak mau berpisah dengan sang
induk kambing. Ia terus mengikuti ke mana saja induk kambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu.
Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak-anak kambing lainnya. Tingkah lakunya juga layaknya kambing. Bahkan anak singa yang mulai berani dan besar itu pun mengeluarkan suara layaknya kambing yaitu mengembik bukan mengaum!
la merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing-kambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa.
Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala. ”Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” Kata induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar.
Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannya diterkam dan dibawa lari serigala.
Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah, ”Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu! Seharusnya bisa mengusir serigala yang jahat itu!”
Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala sebagaimana kambing-kambing lain. Anak singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu tidak kuasa melihat induk kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya dicengkeram serigala. Dengan nekat ia lari dan menyeruduk serigala itu. Serigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor singa di hadapannya. Ia melepaskan cengkeramannya. Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya!
Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras, ”Emmbiiik!”
Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang ancang untuk menyeruduk lagi.
Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing.
Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu! Atau singa bermental kambing itu!
Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya. Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, seperti kambing mengaduh. Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa adalah raja hutan?
Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap menghabisi nyawa anak singa itu. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala terpelanting. Anak singa bangun. Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat!
Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut takut dan ikut merapat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa. Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa itu langsung ikut lari.
Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata, ”Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku tak akan memangsa anak singa!” Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan, ”Jangan bunuh aku, ammpuun!”
”Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak singa!”
Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, ”Tidak aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!” Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing.
Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa. Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, ”Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan!”
”Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!” Tegas singa dewasa.
”Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!”
”Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!” Kata sang singa dewasa. Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan mengaum dengan keras. Ya mengaum, menggetarkan seantero hutan.
Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu.
Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, ”Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!”
Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.
Saya tersentak oleh kisah anak singa di atas! Jangan jangan kondisi kita, dan sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak singa di atas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang dimilikinya. Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasa-biasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya. Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah yang penuh keraguan dan kegamangan. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilikinya.
Saya amati orang-orang di sekitar saya. Di antara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis. Detik demi detik yang dilaluinya adalah kumpulan prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar pula semangatnya untuk
menaklukkannya.
Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka hidup apa adanya karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa dia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar orang-orang yang ketika ditanya,
”Bagaimana Anda menjalani hidup Anda?” atau ”Apa prinsip hidup Anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis,
”Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”
Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi ’mengalir bagaikan air’. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air itu ya hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup ini. Bagaimana cara hidup yang berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka? Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah ’seekor singa’ tapi tidak tahu kalau dirinya ’seekor singa . Mereka menganggap dirinya adalah ’seekor kambing sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing.
Filosofi menjalani hidup mengalir bagaikan air yang dimaknai dengan hidup santai saja, atau hidup apa adanya bisa dibilang prototipe , gaya hidup sebagian besar penduduk negeri ini. Bahkan bisa jadi itu adalah gaya hidup sebagian besar masyarakat dunia Islam saat ini.
Ketika saya pulang kampung, setelah sembilan tahun meninggalkan kampung halaman untuk belajar di Cairo, saya menemukan tidak ada perubahan berarti di kampung halaman saya. Cara berpikir masyarakatnya masih sama. Cara hidupnya masih sama saja. Pak Anu yang ketika saya masih di SD dulu kerjanya menggali sumur, sampai saya pulang dari Mesir, bahkan sampai saat saya berdiri di mimbar ini juga berprofesi menggali sumur. Bu Anu yang dulu kerjanya menjual air memakai gerobak sampai sekarang juga tidak berubah. Mbak Anu yang dulu jualan krupuk sambal di dekat SD sampai sekarang juga masih di sana dan berjualan dagangan yang sama. Bahkan teman-teman yang dulu ketika di bangku sekolah dasar terlihat begitu rajin dan cerdas, yang dulu pernah bercita-cita mau jadi ini dan itu dan saya berharap ia telah meraih cita-citanya sekian tahun berpisah ternyata jauh panggang dari api. Orang-orang yang dulu hidup memprihatinkan ternyata sampai sekarang tidak berubah
Kenapa tidak berubah?
Jawabnya karena mereka tidak mau berubah.
Kenapa tidak mau berubah?
Jawabnya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah. Bahkan kalau mereka tahu mereka harus berubah, mereka tidak tahu bagaimana caranya berubah. Sebab mereka terbiasa hidup pasrah. Hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah. Dan cara hidup seperti itu yang terus diwariskan turun-temurun.
Ada seorang sastrawan terkemuka, yang demi melihat kondisi bangsa yang sedemikian akut rasa tidak berdayanya sampai dia mengatakan,
”Aku malu jadi orang Indonesia!”
Di mana-mana, kita lebih banyak menemukan orang orang bermental lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang-orang yang tidak tahu potensi terbaik yang diberikan oleh Allah kepadanya. Orangorang yang rela ditindas dan dijajah oleh kesengsaraan dan kehinaan. Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup merdeka, jaya, berwibawa dan sejahtera. Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental kambing. Meskipun sebenarnya mereka adalah singa! Banyak yang minder dengan bangsa lain. Seperti mindernya anak singa bermental kambing pada serigala dalam kisah di atas. Padahal sebenarnya, Bangsa ini adalah bangsa besar! Ummat ini adalah ummat yang besar!
Bangsa ini sebenarnya adalah singa dewasa yang sebenarnya memiliki kekuatan dahsyat. Bukan bangsa sekawanan kambing. Sekali rasa berdaya itu muncul dalam jiwa anak bangsa ini, maka ia akan menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah singa yang tidak boleh diremehkan sedikitpun. Bangsa ini sebenarnya adalah Sriwijaya yang perkasa menguasai nusantara. Juga sebenarnya adalah Majapahit yang digjaya dan adikuasa. Lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak mungkin disangkal, adalah ummat Islam terbesar di dunia. Ada dua ratus juta ummat Islam di negeri tercinta Indonesia ini.
Banyak yang tidak menyadari apa makna dari dua ratus juta jumlah ummat Islam Indonesia. Banyak yang tidak sadar. Dianggap biasa saja. Sama sekali tidak menyadari jati diri sesungguhnya. Dua ratus juta ummat Islam di Indonesia, maknanya adalah dua ratus juta singa. Penguasa belantara dunia.
Itulah yang sebenarnya. Sayangnya, dua ratus juta yang sebenarnya adalah singa justru bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan layaknya singa. Lebih memperihatinkan lagi, ada yang sudah menyadari dirinya sesungguhnya singa tapi memilih untuk tetap menjadi kambing. Karena telah terbiasa menjadi kambing maka ia malu menjadi singa! Malu untuk maju dan berprestasi!
Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap menjadi kambing itu menginginkan yang lain tetap menjadi kambing. Mereka ingin tetap jadi kambing sebab merasa tidak mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Yang menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa. Bahkan mereka ingin orang lain jadi kambing yang lebih bodoh!
Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah telah memberi predikat kepada kita sebagai ummat terbaik di muka bumi ini. Marilah kita bermental menjadi ummat terbaik. Jangan bermental ummat yang terbelakang. Allah berfirman,
”Kalian adalah sebaik baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.!”
Ketika Cinta Bertasbih 2 - 29 Dan Cinta Pun Bertasbih
Senin, 30 Agustus 2010
Coret dan Tulis
Manusia adalah mahluk yang unik. Kita memiliki kemampuan berpikir jauh di atas mahluk-mahluk lain ciptaan Allah SWT. Oleh karenanya kemampuan beradaptasi dalam segala jenis lingkungan dapat direalisasikan dari sebuah pikiran.
Pikiran juga berperan sebagai kekuatan yang dapat membangun dan menjatuhkan. Pemikiran-pemikiran jenius dalam science telah membangun sebuah sistem yang disebut tekhnologi. Namun tekhnologi ini, selain dapat digunakan untuk kesejahteraan manusia, juga digunakan untk memuaskan kepentingan sebagian kelompok, tentunya dengan menimbulkan kerusakan.
Betapa pentingnya peranan pikiran dan pemikiran, maka ia membutuhkan suatu tempat untuk dituangkan. Sebuah tempat yang dapat dilihat oleh banyak orang. Sebuah tempat yang mampu menjangkau dunia. Dulu tempat itu bernama Kertas. Namun kini seiring pemikiran manusia semakin luar biasa. Tempat itu berubah nama menjadi Internet.
Salah satu penggunaan internet untuk membagi pikiran adalah dengan blog ini. Blog yang diberi judul Coret dan Tulis ini memaparkan pemikiran-pemikiran yang diharapkan mampu mengubah dunia ke arah yang lebih baik.
Coret dan Tulis. Nama ini mengungkapkan betapa mudahnya meletakkan pikiran. Pikiran kita biasanya selalu bercabang. Saat memikirkan suatu hal, tanpa sengaja biasanya kita akan memikirkan hal lain. Oleh karenanya pikiran mungkin tidak akan terfokus. Maka saat kita berpikir, buatlah coretan-coretan pemikiran kita lengkap dengan cabang-cabangnya. Kemudian rangkailah coret-coretan itu menjadi sebuah kekuatan dengan menulis.
Coret dan Tulis mengharapkan pemikiran-pemikiran out of box but still in the room. Coret dan tulis membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin membagi pemikirannya. silahkan kirim email ke pengelola blog ini.
Selamat membaca
Selamat berpikir
Selamat berbicara
Selamat bertindak
Pikiran juga berperan sebagai kekuatan yang dapat membangun dan menjatuhkan. Pemikiran-pemikiran jenius dalam science telah membangun sebuah sistem yang disebut tekhnologi. Namun tekhnologi ini, selain dapat digunakan untuk kesejahteraan manusia, juga digunakan untk memuaskan kepentingan sebagian kelompok, tentunya dengan menimbulkan kerusakan.
Betapa pentingnya peranan pikiran dan pemikiran, maka ia membutuhkan suatu tempat untuk dituangkan. Sebuah tempat yang dapat dilihat oleh banyak orang. Sebuah tempat yang mampu menjangkau dunia. Dulu tempat itu bernama Kertas. Namun kini seiring pemikiran manusia semakin luar biasa. Tempat itu berubah nama menjadi Internet.
Salah satu penggunaan internet untuk membagi pikiran adalah dengan blog ini. Blog yang diberi judul Coret dan Tulis ini memaparkan pemikiran-pemikiran yang diharapkan mampu mengubah dunia ke arah yang lebih baik.
Coret dan Tulis. Nama ini mengungkapkan betapa mudahnya meletakkan pikiran. Pikiran kita biasanya selalu bercabang. Saat memikirkan suatu hal, tanpa sengaja biasanya kita akan memikirkan hal lain. Oleh karenanya pikiran mungkin tidak akan terfokus. Maka saat kita berpikir, buatlah coretan-coretan pemikiran kita lengkap dengan cabang-cabangnya. Kemudian rangkailah coret-coretan itu menjadi sebuah kekuatan dengan menulis.
Coret dan Tulis mengharapkan pemikiran-pemikiran out of box but still in the room. Coret dan tulis membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin membagi pemikirannya. silahkan kirim email ke pengelola blog ini.
Selamat membaca
Selamat berpikir
Selamat berbicara
Selamat bertindak
Langganan:
Komentar (Atom)

