Setiap yang ada di dunia ini selalu terkait dan terikat satu-sama lain. Hal ini bukan berarti terkain dengan rantai atau terikat dengan tali. Semua hal sebenarnya adalah satu keterkaitan dan keterikatan. Contoh sederhana, tentunya kalian pernah mendengar istilah durian runtuh. Trus apa menariknya ya?
hal yang menarik adalah saat kita memikirkan mengaapa durian bisa runtuh (jatuh)?
Mungkin, kalian yang pernah belajar fisika mengatakan "itu karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi". Jawaban itu benar, namun kurang mendalam. Buah durian jatuh memang disebabkan karena gaya gravitasi, tapi pada dasarnya ia menggantung di pohon durian. Jika gantungannya masiih kuat, toh buah durian tidak akan pernah jatuh ke bumi, kan?
Kalau begitu sekarang kita membahas gantungannya (tangkai buah). Tangkai buah tersususn oleh lapisan-lapisan sel (yang jago biologi silahkan komentar untuk memperbaiki hal ini). Seperti yang kita ketahui, sel-sel secara alami memiliki masa hidup tertentu. Setelah masa hidup sel tersebut habis, maka akan ada regenerasi sel.(digantikan oleh sel sel baru). Lalu kemana sel yang sudah mati?
Lantas sekarang apa hubungannya sel-sel tersebut dengan gaya gravitasi? nah disini yang kita sebut one is all and all is one. Penyebab ga langsung dari menuanya sel dan matinya sel adalah gaya gravitasi. Sel tersebut bekerja menghasilkan tenaga untuk melawan gaya gravitasi dan tentu saja mematangkan buat tersebut. Namun saat buah makin besar dan berat, maka gaya berat dari benda tersebut semakin besar. Di suatu titik tertentu, walaupun pertumbuhan sel masih berlangsung, maka tenaga yang dihasilkan oleh sel-sel untuk mempertahankan posisi buah, tak sanggup melawan besarnya gaya berat dari buah tersebut.
Jadi, ternyata masih erat hubungan fisika dan biologi. Di lain kesempatan, mungkin saya akan menulis hubungan-hubungan antar bidang yang menyatakan ONE IS ALL and ALL IS ONE
(apa yang tertulis disini masih merupakan pemikiran, belum melewati penelitian yang real, jadi jangan dianggap terlalu serius)
Blog ini dimaksudkan untuk membagi pemikiran pemikiran yang out of box but still in the room yang tertuang dalam tulisan-tulisan ringan.
Cari Blog Ini
Rabu, 08 Februari 2012
Jumat, 03 Februari 2012
Dimensi Cinta Sang Raja
Ada kisah tentang seorang Raja. Raja yang Mahadiraja. Ia begitu
berkuasa, sampai nyawa untuk rakyat adalah milik-Nya. Si Raja memberi
kemakmuran yang tiada tara. Sampai bulan pun Ia berikat untuk mereka.
Tapi rakyat adalah rakyat durjana, tak pernah cinta pada Raja. Mereka hanya mau nikmatnya saja. Suatu waktu, hujan tak kunjung turun di wilayah pertanian, mereka menuding Sang Raja sebagai biang keladinya. "Itu hukuman buat kita," begitu selalu kata mereka.
Dan rakyat adalah rakyat durhaka, karena tak mau cinta kepada Raja. Mereka enggan menjalankan titah-Nya. Beberapa perintah-Nya, hanyalah ritualitas saja buat mereka. Sementara sisanya tak bermakna apa-apa.
Suatu kali rakyat begitu berjaya. Mereka punya apa saja. Tentu saja itu pemberian Sang Raja. Mereka punya rudal, punya senjata-senjata canggih dan modern, punya betis-betis bagus, punya wajah-wajah fotogenik, punya segalanya.
Lalu rudal pun terarah kepada si miskin papa, kepada siapa Sang Raja lebihkan cinta-Nya. Senjata-senjata pun membuat beribu-ribu anak yatim, kepada siapa Sang Raja tumpahkan kasih sayang-Nya.
Kemudian betis-betis pun bikin pemuda-pemuda tanggung gundah hatinya hingga bayi pun diperkosa, kepada siapa Sang Raja amanatkan untuk rakyat-Nya.
Suatu saat, tak ada lagi yang ingat Raja. Padahal pasokan nikmat dari detik ke detik belum lagi tuntas. Setiap saat ada rezeki, ada ujian, ada semua. Tapi rakyat tenggelam dalam keserakahannya, letakkan Raja di punggung mereka.
Kini Raja bermuram durja. Ia tak mampu marah kepada rakyat-Nya, karena dihati-Nya ada cinta. Begitu besar cinta-Nya hingga mungkin tak ada yang tahu dimensinya. Di atas Arsy', Sang Raja menunduk sedih, air mata mengalir di pipi-Nya. Ia menanti kunjungan rakyat-Nya untuk sekedar ucapkan sapaan cinta. Ah, lama betul Ia menanti.
Di atas Arsy', Sang Raja merenung melihat rakyat yang mengangkat-Nya. "Atau haruskah azab-Ku yang teramat pedih melukai tubuh mereka". Sang Raja merunduk sedih. "Kalau begitu hati-Ku pun akan terluka". Air mata pun mengalir di pipi-Nya. AS
Disadur dari An- Nabaa' No.4 Thn IV 21 Oktober 1994 (Rohis Senat Mahasiswa Tingkat IV (Angkatan '91) FKUI
Tapi rakyat adalah rakyat durjana, tak pernah cinta pada Raja. Mereka hanya mau nikmatnya saja. Suatu waktu, hujan tak kunjung turun di wilayah pertanian, mereka menuding Sang Raja sebagai biang keladinya. "Itu hukuman buat kita," begitu selalu kata mereka.
Dan rakyat adalah rakyat durhaka, karena tak mau cinta kepada Raja. Mereka enggan menjalankan titah-Nya. Beberapa perintah-Nya, hanyalah ritualitas saja buat mereka. Sementara sisanya tak bermakna apa-apa.
Suatu kali rakyat begitu berjaya. Mereka punya apa saja. Tentu saja itu pemberian Sang Raja. Mereka punya rudal, punya senjata-senjata canggih dan modern, punya betis-betis bagus, punya wajah-wajah fotogenik, punya segalanya.
Lalu rudal pun terarah kepada si miskin papa, kepada siapa Sang Raja lebihkan cinta-Nya. Senjata-senjata pun membuat beribu-ribu anak yatim, kepada siapa Sang Raja tumpahkan kasih sayang-Nya.
Kemudian betis-betis pun bikin pemuda-pemuda tanggung gundah hatinya hingga bayi pun diperkosa, kepada siapa Sang Raja amanatkan untuk rakyat-Nya.
Suatu saat, tak ada lagi yang ingat Raja. Padahal pasokan nikmat dari detik ke detik belum lagi tuntas. Setiap saat ada rezeki, ada ujian, ada semua. Tapi rakyat tenggelam dalam keserakahannya, letakkan Raja di punggung mereka.
Kini Raja bermuram durja. Ia tak mampu marah kepada rakyat-Nya, karena dihati-Nya ada cinta. Begitu besar cinta-Nya hingga mungkin tak ada yang tahu dimensinya. Di atas Arsy', Sang Raja menunduk sedih, air mata mengalir di pipi-Nya. Ia menanti kunjungan rakyat-Nya untuk sekedar ucapkan sapaan cinta. Ah, lama betul Ia menanti.
Di atas Arsy', Sang Raja merenung melihat rakyat yang mengangkat-Nya. "Atau haruskah azab-Ku yang teramat pedih melukai tubuh mereka". Sang Raja merunduk sedih. "Kalau begitu hati-Ku pun akan terluka". Air mata pun mengalir di pipi-Nya. AS
Disadur dari An- Nabaa' No.4 Thn IV 21 Oktober 1994 (Rohis Senat Mahasiswa Tingkat IV (Angkatan '91) FKUI
Langganan:
Komentar (Atom)