Cari Blog Ini

Jumat, 18 November 2011

Penampilan dan Kenyataan

Suatu ketika sekelompok anak kelas XI suatu SMA Negeri mengadakan home stay disebuah desa. Mereka akan menjalankan rutinitas tahunan mereka. Kali ini meereka berada di sebuah desa yang cukup makmur dengan hamparan sawah yang menghijau luas karena baru memasuki musim tanam.

Mereka tinggal di desa tersebut selama 3 hari 4 malam. Di akhir hari ke tiga mereka diharuskan menentukan warga masyarakat sekitar yang mereka rasa kekurangan. Dalam hal ini tak satupun kelompok siswa yang berkonsultasi dengan petugas desa karena mereka murni ingin memberi kepada warga yang mereka anggap kekurangan dan tidak mampu.

Tersebutlah sekelompok siswa yang menunjuk rumah tempat mereka tinggal sebagai salah satu calon penerima santunan. Mereka memutuskan untuk mengajukan rumah ini karena didesa, rumah inilah yang paling sederhana, Ukurannya tidak terlalu kecil, malah bisa dikatakan cukup besar, namun dindingnya hanya terbuat dari bilik banbu dan lantainya masih berupa tanah.Yang tinggal di dalamnya hanyalah seorang nenk tua yang usianya diperkirakan 60-70 tahun. Nenek itu hidup sendiri di rumah tersebut. Ia seorang janda. Anak dan cucu-cunya ada dikota besar utnuk mencari nafkah dan hidup di sana. Hanya sesekali mereka pulang ke desa. Setiap hari mereka melihat nenek tersebut memakai baju yang cukup lusuh Atas dasar itulah mereka mengajukan nenek tersebut untuk mendapatkan bantuan.

Mereka menyampaikan niat mereka ketika berkumpul bersama dengan kelompok yang lain dan dihadiri kepala desa. Saat mereka mengajukan nenek tua tersebut untuk mendapat bantuan, Langsung saja kepala desa tersebut tertawa. Semua murid dan guru yang ada di tempat tersebut bingung melihat tawa kepala desa, kenapa nenek tua renta yang akan diberi santunan justu ditertawakan?

Akhirnya tawa kepala desa tersebut reda dan mulai berkata

"Anak-anak yang saya cintai, niat kalian untuk memberi memang bapak akui patut dicontoh oleh banyak masyarakat. Jaman sekarang memang jarang ada orang yang punya hati nurani seperti kalian. Bapak berharap semangat hati kalian untuk memberi tak akan pernah padam"

Pak Kepala Desa menghela napas sejenak

"Namun perlu Bapak tekankan disini. Memberi itu tidak hanya sekedar menyodorkan uang atau barang lain ke penerima. Namun perlu dilihat juga apakah ia pantas untuk menerimanya atau tidak. Jangan kalian lihat orang lain dari penampilannya. Nenek yang rumahnya kalian tinggali itu justru adalah orang terkaya di desa ini..."

"HAAHH?" hampir semua murid dan guru meneriakkan hal yang sama

"tiga perempat sawah yang ada di desa ini adalah miliknya. Ia memang tak sanggup lagi untuk mengurus sawahnya, sehingga ia meminta penduduk desa yang lain membantunya. Ia juga tak suka tinggal di rumah berbinbing bata seperti kita, karena ia sudah terbiasa dengan hidupnya. Memang ia seorang janda, tapi janda kaya raya. Ia tak pernah kekurangan satu apapun."

sejenak kelompok yang mengajukan nenek itu terdiam, mereka tidak menyangka bahwa nenenk yang berpakaian lusuh itu ternyata adalah seorang yang kaya raya