Cari Blog Ini

Sabtu, 09 Oktober 2010

Pulsa Itu Penting tapi Buku Itu Harus

Kemajuan teknologi telah mengubah pola hidup masyarakat secara luas. Handphone, sampai akhir abad ke-20 merupakan barang tersier bagi banyak masyarakat Indonesia. Namun saat ini, handphone seperti telah menjadi kebutuhan pokok bagi banyak orang. Coba kita lihat di banyak tempat saat ini, tidak hanya orang kantoran yang memiliki handphone, tukang rujak dan ketoprak pun sudah siap menerima pesanan melalui handphone. Sharing Vision  (http://www.sharingvision.biz/) memprediksi pertumbuhan pengguna handphone (pengguna seluler) di Indonesia pada tahun 2010-2012 yaitu:  pada 2010, jumlah pelanggan diprediksi menjadi 167,7 juta nomor sementara tahun 2011 akan mencapai 184,4 juta dan tahun 2012 akan mencapai 199,06 juta. Jika kita berasumsi bahwa jumlah masyarakat Indonesia saat ini adalah 250 juta jiwa, maka sekitar 67% nya adalah pengguna seluler.
 
Lantas, apa yang menarik dari prediksi diatas?
Tentunya kita semua tahu bahwa handphone tak akan ada artinya tanpa adanya pulsa. Baik itu handphone yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan sms, ataupun smartphone yang saat ini sedang booming dengan berbagai layanan internetnya. Pulsa pun kini seperti permen yang dijual di warung eceran atau pedagang asongan, begitu mudah didapat. Survei juga membuktikan bahwa remaja merupakan pembeli pulsa tersering dengan  nominal 5.000 sampai 25.000 perminggu. Hal ini berarti bahwa seorang remaja, yang bisa dikatakan belum berpenghasilan, mampu menghabisakan 20.000 sampai 100.000 perbulan hanya untuk pulsa. Bayangkan dalam kurun waktu dua belas bulan di tahun 2010 ini, berapa uang yang sudah dikeluarkan untuk pulsa? Bagaimana jika uang sebanyak itu atau paling tidak sebagian dari itu kita belikan buku yang dapat menambah pengetahuan kita?

Pembelian pulsa di Indonesia memang lebih mendominasi daripada pembelian buku. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor diantaranya minat baca buku masyarakat yang rendah dan harga buku yang relatif mahal. Kombinasi dari dua hal ini pada akhirnya akan membuat tingkat masyarakat berpendidikan tinggi di Indonesia beada pada level rendah. Namun kedua penyebab diatas, kini sudah dapat diatasi. Masalah minat baca, dapat disiasati oleh ide-ide cemerlang penulis dan penerbit. Kemudian, penyebab yang kedua dapat ditakhlukan  dengan melakukan penghematan dibeberapa hal seperti hemat pulsa.

Bagaimana berhemat pulsa?
Berhemat pulsa dapat dilakuakan dengan berbagai cara diantaranya yaitu:

1. Mengurangi penggunaan pulsa dengan cara mengurangi pemakaian layanan sms, telepon atau internet. Hal ini bukan berarti kita menjadi manusia yang "pelit" terhadap pulsa, tapi kita melakukan penghematan akan hal-hal yang dirasa tidak begitu penting seperti sms iseng, internetan untuk hal yang tidak begitu penting atau pulsa untuk game. Dampak positifnya adalah selain kita dapat menghemat pengeluaran pulsa, kita juga terhindar dari hal-hal yang dapat menyita waktu produktif kita.

2. Menggunkan paket-paket yang ditawarkan oleh operator pulsa (operator seluler). Hal pertama yang dilakukan adalah mengganti nomor seluler kita dengan operator yang sesuai dengan kebutuhan kita. Setelah itu pergunakan sebaik mungkin  tawaran menarik dari operator pulsa seperti gratis sms setelah kirim beberapa sms, gratis telepon setelah beberapa menit, dan  banyak lagi. Pilih dan gunakan sesuai keperluan dan kebutuhan kita. Ini akan cukup membantu penghematan biaya pulsa. Pemilihan operator yang tepat sesuai kebutuhan kita tentunya akan membuat kita menghemat lebih jauh, bukan?.

3. Bagi kita yang masih juga boros padahal sudah menggunakan paket hemat dan lain sebagainya, maka cobalah ikut dalam bisnis pulsa. Saat ini banyak sekali bisnis-bisnis pulsa yang beredar. Yang paling marak adalah bisnis pulsa elektrik. Cukup bermodal handphone dan sedikit uang, kita sudah bisa memulai bisnis ini. Tapi bukan ini yang saya maksud. Bagi kita yang tidak tertarik dengan bisnis tersebut, kita dapat menggunakan layanan pulsa murahnya untuk kita pakai. Ini karena harga pulsa yag ditawarkan dalam bisnis ini relatif lebih murah dari harga pulsa yang kita beli di counter pulsa. Sebagai contoh sebuah bisnis pulsa elektrik X memberikan harga Rp 9.400 untuk pengisian pulsa nominal 10.000. Bandingkan jika kita beli pulsa tersebut di counter pulsa yang harganya bisa mencapai Rp 11.000 - Rp 12.000. Walupun selisihnya kecil, jika penghematan ini dilakukan akan membawa dampak yang besar untuk waktu yang cukup lama.  

Namun tanpa aksi buku yang kita impikan hanya menjadi ilusi. Mulai sekarang kita harus mulai melangkah. Kita hidupkan bersama Gerakan Hemat Pulsa untuk Beli Buku. Mari kita turut andil dalam mencerdaskan bangsa. Teringat kata seorang tokoh Naga Bonar, "APA KATA DUNIA?" kalau Indonesia memiliki banyak manusia tetapi hanya manusia yang menjadi katak dalam kotak. Jadi sebagai penutup note ini saya katakan bahwa

"Pulsa Itu Penting tapi Buku Itu Harus".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar