Cari Blog Ini

Jumat, 03 Februari 2012

Dimensi Cinta Sang Raja

Ada kisah tentang seorang Raja. Raja yang Mahadiraja. Ia begitu berkuasa, sampai nyawa untuk rakyat adalah milik-Nya. Si Raja memberi kemakmuran yang tiada tara. Sampai bulan pun Ia berikat untuk mereka.

Tapi rakyat adalah rakyat durjana, tak pernah cinta pada Raja. Mereka hanya mau nikmatnya saja. Suatu waktu, hujan tak kunjung turun di wilayah pertanian, mereka menuding Sang Raja sebagai biang keladinya. "Itu hukuman buat kita," begitu selalu kata mereka.


Dan rakyat adalah rakyat durhaka, karena tak mau cinta kepada Raja. Mereka enggan menjalankan titah-Nya. Beberapa perintah-Nya, hanyalah ritualitas saja buat mereka. Sementara sisanya tak bermakna apa-apa.


Suatu kali rakyat begitu berjaya. Mereka punya apa saja. Tentu saja itu pemberian Sang Raja. Mereka punya rudal, punya senjata-senjata canggih dan modern, punya betis-betis bagus, punya wajah-wajah fotogenik, punya segalanya.

Lalu rudal pun terarah kepada si miskin papa, kepada siapa Sang Raja lebihkan cinta-Nya. Senjata-senjata pun membuat beribu-ribu anak yatim, kepada siapa Sang Raja tumpahkan kasih sayang-Nya.


Kemudian betis-betis pun bikin pemuda-pemuda tanggung gundah hatinya hingga bayi pun diperkosa, kepada siapa Sang Raja amanatkan untuk rakyat-Nya.

Suatu saat, tak ada lagi yang ingat Raja. Padahal pasokan nikmat dari detik ke detik belum lagi tuntas. Setiap saat ada rezeki, ada ujian, ada semua. Tapi rakyat tenggelam dalam keserakahannya, letakkan Raja di punggung mereka.

Kini Raja bermuram durja. Ia tak mampu marah kepada rakyat-Nya, karena dihati-Nya ada cinta. Begitu besar cinta-Nya hingga mungkin tak ada yang tahu dimensinya. Di atas Arsy', Sang Raja menunduk sedih, air mata mengalir di pipi-Nya. Ia menanti kunjungan rakyat-Nya untuk sekedar ucapkan sapaan cinta. Ah, lama betul Ia menanti.

Di atas Arsy', Sang Raja merenung melihat rakyat yang mengangkat-Nya. "Atau haruskah azab-Ku yang teramat pedih melukai tubuh mereka". Sang Raja merunduk sedih. "Kalau begitu hati-Ku pun akan terluka". Air mata pun mengalir di pipi-Nya. AS

Disadur dari An- Nabaa' No.4 Thn IV 21 Oktober 1994 (Rohis Senat Mahasiswa Tingkat IV (Angkatan '91) FKUI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar