Ada kisah tentang seorang Raja. Raja yang Mahadiraja. Ia begitu
berkuasa, sampai nyawa untuk rakyat adalah milik-Nya. Si Raja memberi
kemakmuran yang tiada tara. Sampai bulan pun Ia berikat untuk mereka.
Tapi rakyat adalah rakyat durjana,
tak pernah cinta pada Raja. Mereka hanya mau nikmatnya saja. Suatu
waktu, hujan tak kunjung turun di wilayah pertanian, mereka menuding
Sang Raja sebagai biang keladinya. "Itu hukuman buat kita," begitu
selalu kata mereka.
Dan rakyat adalah rakyat durhaka, karena tak mau cinta
kepada Raja. Mereka enggan menjalankan titah-Nya. Beberapa perintah-Nya,
hanyalah ritualitas saja buat mereka. Sementara sisanya tak bermakna
apa-apa.
Suatu kali rakyat begitu berjaya. Mereka punya apa saja. Tentu
saja itu pemberian Sang Raja. Mereka punya rudal, punya senjata-senjata
canggih dan modern, punya betis-betis bagus, punya wajah-wajah
fotogenik, punya segalanya.
Lalu rudal pun terarah kepada
si miskin papa, kepada siapa Sang Raja lebihkan cinta-Nya.
Senjata-senjata pun membuat beribu-ribu anak yatim, kepada siapa Sang
Raja tumpahkan kasih sayang-Nya.
Kemudian betis-betis pun bikin pemuda-pemuda tanggung gundah
hatinya hingga bayi pun diperkosa, kepada siapa Sang Raja amanatkan
untuk rakyat-Nya.
Suatu saat, tak ada lagi yang ingat
Raja. Padahal pasokan nikmat dari detik ke detik belum lagi tuntas.
Setiap saat ada rezeki, ada ujian, ada semua. Tapi rakyat tenggelam
dalam keserakahannya, letakkan Raja di punggung mereka.
Kini Raja bermuram durja. Ia tak mampu marah kepada rakyat-Nya, karena
dihati-Nya ada cinta. Begitu besar cinta-Nya hingga mungkin tak ada yang
tahu dimensinya. Di atas Arsy', Sang Raja menunduk sedih, air mata
mengalir di pipi-Nya. Ia menanti kunjungan rakyat-Nya untuk sekedar
ucapkan sapaan cinta. Ah, lama betul Ia menanti.
Di atas
Arsy', Sang Raja merenung melihat rakyat yang mengangkat-Nya. "Atau
haruskah azab-Ku yang teramat pedih melukai tubuh mereka". Sang Raja
merunduk sedih. "Kalau begitu hati-Ku pun akan terluka". Air mata pun
mengalir di pipi-Nya. AS
Disadur dari An- Nabaa' No.4 Thn IV 21 Oktober 1994 (Rohis Senat Mahasiswa Tingkat IV (Angkatan '91) FKUI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar