Pernah ke Eropa? Atau berencana jalan-jalan ke Eropa? Sudah berapa banyak buku traveling guide yang Anda baca? Apa saja yang Anda dapatkan dari buku-buku tersebut? Bagaimana jika saya sarankan Anda membaca buku "99 Cahay di Langit Eropa" karya Hanum Salsabila Rais dan suaminya Rangga Almahendra.
Apa yang menarik dalam buku ini sehingga saya masukkan ulasannya ke dalam blog ini? Paling tidak ada dua keunggulan dalam buku ini yang harus saya sebutkan.
Pertama, buku ini tidak hanya sekedar buku catatan perjalanan biasa, di dalamnya penulis bertemu banyak tokoh nyata yang memiliki jalan pikiran yang menawan. Tokoh Fatma imigran asal Turki yang tinggal di Austria, walalupun pendidikannya tidak setinggi penulis, namun jalan pikiran yang digabungkan dengan kerendahan hati, membuatnya lebih pintar daripada kita yang mungkin sudah belajar hingga ke jenjang S2 atau S3. Berikut kutipan percekapan Hanum dan Fatma di sebuah kafe.
Fatma: Kalau yang memakai menara tinggi disebut gereja bergaya gothic. Semakin tinggi menara dimangun, jemaat yang berdoa dalam gereja akan merasa semakin dekat dengan Tuhan. Karena Tuhan diasumsikan berada di atas langit. Kalau gereja yang atapnya berbentuk kubah seperti masjid, disebut bergaya baroque. Nah biasanya dalam gereja baroque, lukisan-lukisan gambaran malaikat dan mosaik bersepuh emas lebih dominan karena ...
Hanum: Psst ...psst, Fatma, diamlah sebentar...
Fatma: Ada apa hanum? Kau tak suka kita membicarakan gereja?
Hanum: Kurasa tamu dibalik tembok ini sedang menjelek-jelekan Islam, mereka menyebut croissant melambangkan bendera Turki yang bisa dimakan.Kalau makan croissant, berarti memakan Islam! Menyebalkan!
Fatma: Aku punya rencana Hanum!
Aku perlu tahu dulu, berapa orang yang berada di balik tembok itu, Hanum.
Hanum: Aku tak yakin Fatma, tapi aku bisa berpura-pura pergi ke WC untuk melihat berapa jumlah mereka
...
Hanum: Tiga orang, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Seumuran dengan kita, kurasa. Kita habiskan dulu minuman dan makanan ini, kita bayar, lalu kita peringatkan mereka baik-baik, Fatma!
Fatma: Apa sih yang mereka makan? Croistan saja?
Hanum: Ya, dan 3 bir, sepertinya (kemudian kami menghabiskan makanan dan minuman kami)
Fatma: Pelayan, Aku membayar untuk smeua. Termasuk untuk meja di belakang kami, Aku yakin tagihan mereka tak lebih dari 15 Euro. Kalau sisa, itu untuk tipmu. Kalau kurang, suruh mereka bayar kekurangannya saja. Oh ya, berikan pesan ini untuk mereka kalau kami sudah pergi.(ujar Fatma sambil menyerahkan kertas)
...
Hanum: Kau menulis apa di kertas itu, Fatma?
Fatma: Aku cuma tahu sedikit bahasa Inggris, Hanum. Aku hanya menulis 'Hi, I am Fatma, a muslim from Turkey', lalu kutulis alamat e-mailku, itu saja.
Hanum: ... (termeneung) Bagaimana kau bisa tak marah sedikitpun Fatma?
Fatma: Tentu saja akau tersinggung, Hanum. Dulu aku juga jadi emosi jika mendengar hal yang tak cocok di negeri ini. Apalagi masalah etnis dan agama, Tapi seperti kau dan dinginnya hawa di Eropa ini, suhu tubuhmu akan menyesuaikan. Kau perlu penyesuaian, Hanum. Hanya satu yang harus kita ingat. Misi kita adalah menjadi agen Islam yang damai, teduh, indah, yang membawa keberkahan di komunitas nonmuslim. Dan itu tidak akan pernah mudah
Perpaduan antar pemikiran yang cepat dan kerendahan hati ternyata begitu indah. Mungkin kita masih banyak yang seperti Hanum waktu itu, dan Mungkin sedikit di antara kita yang bersikap seperti Fatma. Sedikit gambaran dari percakapan terebut mungkin akan mengingatkan kita bagaimana cara berpikir dengan hati dan merasakan dengan akal.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar