Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2016

Ada Apa dengan Ibrahim?

Assalamu'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh

Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H :D

Buat para sapi dan mbek yang menyandang predikat hewan qurban, kalian yang tabah ya :D

Oke gaes, kali ini nulisnya yang ringan-ringan aja, ini juga hasil dari denger ceramah abis sholat Idul Adha tadi. Sesuai judul, saya pengen sedikit nulis tentang Ada Apa dengan Ibrahim?

Kenal Ibrahim? bukan, bukan Ibrahim tetangga kamu yak, bukan juga kamu, ini salah satu Rasulullah, Bapak Para Nabi, Salah satu Nabi pilihan yang masuk jajaran Ulul Azmi. Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Trus Ada Apa dengan Ibrahim? Nah ini pertanyaannya. Ada yang udah mikir kah? kenapa dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam? Nabi kita itu kan Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam, tapi kenapa kita masih harus sholawat ke Nabi Ibrahim Alaihissalam? Bahkan kalo sholat kita ga baca sholawat ke Nabi Ibrahim Alaihissalam, sholat kita failed alias gagal karena membaca shalawat adalah salah satu rukun sholat Tau kenapa?


ini nih alasannya, ada di Al Quran,
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An Nahl: 123)

Then We revealed to you, [O Muhammad], to follow the religion of Abraham, inclining toward truth; and he was not of those who associate with Allah. (An Nahl: 123) 

kita ga akan bahas tafsir, saya juga bukan ahlinya, tapi secara arti aja, Nabi Muhammad Sallahau Alaihi Wassalam diwahyukan oleh Allah, untuk ngikutin agama Nabi Ibrahim Alaihissalam, Agama Apa itu? ya Agama Islam. Agama yang Tuhannya cuma satu, Allah Subhanahu Wata'ala.

Tapi kita disini ga akan bahas tentang Agama, tapi lebih ke sosok Ibrahim, sosok Nabi yang masih kita sholawatin sampe saat ini, kenapa? Karena banyak hal yang kita pelajari dari Nabi Ibrahim Alaihissalam dan keluarga bersarnya.

1. Kebiasaan Berdoa kepada Allah
Cek dah, kebiasaan Nabi Ibrahim Alaihissalam di ayat-ayat di Al Quran. Kebanyakan ayat-ayat di Al Qur'an tentang Nabi Ibrahim, isinya adalah Doa, apa-apa doa. Nah ini yang harus kita contoh, mau ngapa-ngapain ya doa dulu. Doa ke siapa? ya Ke Allah, sipa lagi Tuhan kita? Betul tidak?

Bahkan salah satu doa awal dari Nabi Ibrahim saat meninggalkan baby Ismail dan Ibunya di Padang Tak Bertuan (baca Q.S. Ibrahim ayat 35 - 41) adalah memohon biar keturunannya ga nyembah yang lain, nyembahnya, mintanya, bergantungnya, cuma sama Allah aja
Bayangin gaes, seorang perempuan, baru melahirkan dengan balita yang belum bisa berbuat banyak, ditinggal di sebuah padang (tanah lapang, ada juga yang bilang padanag pasir), yang ga keliatan satu rumahpun disitu. Bayangin kalo kita jadi mereka, ga ada siapa-siapa yang bisa dimintain tolong, tapi Ibrahim minta ke yang punya itu lahan, siapa? ya Allah SWT.

Makannya, sebelum apa-apa, kita DOA dulu ke Allah, mau nulis, doa dulu, mau baca, doa dulu, mau makan doa dulu, mau masak doa dulu, mau ngapa-ngapain doa dulu ke Allah. Laporan dan minta dulu sama Allah, anggap aja kita lagi ada di tengah lautan dan cuma kita aja, mau minta tolong kesiapa? 

2. Terus Usaha sampai Allah realisasikan
Nah, kadang kita gampang nyerah dan ga mau coba lagi ketika kita mengalami kegagalan. Bayangin kalo itu terjadi sama Siti Hajar, Istri ke-2 dari Nabi Ibrahim, Ibu dari Nabi Ismail Alaihissalam.

Kalo aja Allah ciptakan Siti Hajar dari golongan orang-orang yang lemah, yang ga kuat mentalnya dan tenaganya, ga ada itu rukun haji lari bolak balik Safa dan Marwah. Bayangin gaes, seorang ibu yang cemas ngeliat anaknya nangis kehausan, sedangkan disitu cuma ada mereka berdua, ga ada orang lain di padang yang luas, Mereka berdaoa ke Allah? Jelas, mereka pasti berdoa ke Allah, tapi Allah juga mau liat keseriusan dari doa-doa dia (Siti Hajar).

Siang hari, panas-panas kaya sekarang di Arab (katanya sampe 50an derajat celcius), waktu yang cocok buat peristiwa fatamorgana. Terlihat seperti ada air, tapi ga ada air, cuma udara yang menciptakan ilusi optik. Nah itu yang Siti Hajar lihat, ketika melihat seperti ada air di bukit sebelah, dia lari kesana berharap Allah turunkan air disana. Faktanya? ga ada, sampai 7 kali bolak balik. Kalo Siti Hajar lemah, sekali balik pasti udah nyerah. Setelah cape 7 kali bolak balik Hasilnya apa? GAGAL bos secara pandangan manusia

Tapi Allah ga tinggal diam kepada hambanya yang udah berdoa dan berusaha, emang bener Siti Hajar ga berhasil alias GAGAL dapetin air, tapi Allah kasih jalan lain, melalui kaki mungil Ismail. Di bawah kakinya, muncul mata air yang sampai hari ini masih terus mengalir.

Nah, kalo kita udah doa, udah usaha sesuai dengan doa, tapi Allah belum juga ngeliatin kita hasilnya. Santai, jangan keburu nyerah, istirahat boleh, tapi terus aja usaha, ga tau darimana, mungkin dari arah yang ga kita duga, Allah kirim hasil doa dan usaha kita. Kaya cerita Siti Hajar barusan

Tadi dikhutbah ada 4 sih yang khatib kasih tau, tapi nanti nyambung lagi InsyaAllah
Semoga ini bisa mendorong kita untuk terus berDOA dan berUSAHA, jangan nyerah sob :)

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

to be rsambung

Rabu, 17 Agustus 2016

MERDEKA

MERDEKA

Bismillahirrohmannirrohim
MERDEKA itu adalah ketika menjadi hamba Allah saja. Hanya Allah yang kita taati, turuti, dan patuhi. Hanya Allah yang Paling Besar, Paling Tinggi, dan Paling Mulia
MERDEKA itu tidak menjadi hamba duit, jabatan, waktu, nafsu, partai, dan siapa pun. Berdaulat atas dirinya sendiri karena hanya menghamba kepada Allah Subhanahu wata’ala

Jakarta, 17 Agustus 2016
Yusuf Mansur

Sabtu, 29 Oktober 2011

99 Cahaya di Langit Eropa

Pernah ke Eropa? Atau berencana jalan-jalan ke Eropa? Sudah berapa banyak buku traveling guide yang Anda baca? Apa saja yang Anda dapatkan dari buku-buku tersebut? Bagaimana jika saya sarankan Anda membaca buku "99 Cahay di Langit Eropa" karya Hanum Salsabila Rais dan suaminya Rangga Almahendra.

Apa yang menarik dalam buku ini sehingga saya masukkan ulasannya ke dalam blog ini? Paling tidak ada dua keunggulan dalam buku ini yang harus saya sebutkan.

Pertama, buku ini tidak hanya sekedar buku catatan perjalanan biasa, di dalamnya penulis bertemu banyak tokoh nyata yang memiliki jalan pikiran yang menawan. Tokoh Fatma imigran asal Turki yang tinggal di Austria,  walalupun pendidikannya tidak setinggi penulis, namun jalan pikiran yang digabungkan dengan kerendahan hati, membuatnya lebih pintar daripada kita yang mungkin sudah belajar hingga ke jenjang S2 atau S3. Berikut kutipan percekapan Hanum dan Fatma di sebuah kafe.

Fatma: Kalau yang memakai menara tinggi disebut gereja bergaya gothic. Semakin tinggi menara dimangun, jemaat yang berdoa dalam gereja akan merasa semakin dekat dengan Tuhan. Karena Tuhan diasumsikan berada di atas langit. Kalau gereja yang atapnya berbentuk kubah seperti masjid, disebut bergaya baroque. Nah biasanya dalam gereja baroque, lukisan-lukisan gambaran malaikat dan mosaik bersepuh emas lebih dominan karena ...


Hanum:  Psst ...psst, Fatma, diamlah sebentar...


Fatma: Ada apa hanum? Kau tak suka kita membicarakan gereja?


Hanum: Kurasa tamu dibalik tembok ini sedang menjelek-jelekan Islam, mereka menyebut croissant melambangkan bendera Turki yang bisa dimakan.Kalau makan croissant, berarti memakan Islam! Menyebalkan!


Fatma: Aku punya rencana Hanum!
Aku perlu tahu dulu, berapa orang yang berada di balik tembok itu, Hanum.


Hanum: Aku tak yakin Fatma, tapi aku bisa berpura-pura pergi ke WC untuk melihat berapa jumlah mereka
...
Hanum: Tiga orang, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Seumuran dengan kita, kurasa. Kita habiskan dulu minuman dan makanan ini, kita bayar, lalu kita peringatkan mereka baik-baik, Fatma!


Fatma: Apa sih yang mereka makan? Croistan saja?


Hanum: Ya, dan 3 bir, sepertinya (kemudian kami menghabiskan makanan dan minuman kami)


Fatma: Pelayan, Aku membayar untuk smeua. Termasuk untuk meja di belakang kami, Aku yakin tagihan mereka tak lebih dari 15 Euro. Kalau sisa, itu untuk tipmu. Kalau kurang, suruh mereka bayar kekurangannya saja. Oh ya, berikan pesan ini untuk mereka kalau kami sudah pergi.(ujar Fatma sambil menyerahkan kertas)
...
Hanum: Kau menulis apa di kertas itu, Fatma?


Fatma: Aku cuma tahu sedikit bahasa Inggris, Hanum. Aku hanya menulis 'Hi, I am Fatma, a muslim from Turkey', lalu kutulis alamat e-mailku, itu saja.


Hanum: ... (termeneung) Bagaimana kau bisa tak marah sedikitpun Fatma?


Fatma:  Tentu saja akau tersinggung, Hanum. Dulu aku juga jadi emosi jika mendengar hal yang tak cocok di negeri ini. Apalagi masalah etnis dan agama, Tapi seperti kau dan dinginnya hawa di Eropa ini, suhu tubuhmu akan menyesuaikan. Kau perlu penyesuaian, Hanum. Hanya satu yang harus kita ingat. Misi kita adalah menjadi agen Islam yang damai, teduh, indah, yang membawa keberkahan di komunitas nonmuslim. Dan itu tidak akan pernah mudah

Perpaduan antar pemikiran yang cepat dan kerendahan hati ternyata begitu indah. Mungkin kita masih banyak yang seperti Hanum waktu itu, dan Mungkin sedikit di antara kita yang bersikap seperti Fatma. Sedikit gambaran dari percakapan terebut mungkin akan mengingatkan kita bagaimana cara berpikir dengan hati dan merasakan dengan akal.

bersambung...