Cari Blog Ini

Rabu, 17 Agustus 2016

MERDEKA

MERDEKA

Bismillahirrohmannirrohim
MERDEKA itu adalah ketika menjadi hamba Allah saja. Hanya Allah yang kita taati, turuti, dan patuhi. Hanya Allah yang Paling Besar, Paling Tinggi, dan Paling Mulia
MERDEKA itu tidak menjadi hamba duit, jabatan, waktu, nafsu, partai, dan siapa pun. Berdaulat atas dirinya sendiri karena hanya menghamba kepada Allah Subhanahu wata’ala

Jakarta, 17 Agustus 2016
Yusuf Mansur



Pagi ini, saya mendapatkan kiriman sebuah gambar dari grup diskusi Selamat Morning Indonesia (SMI), salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti. Gambar tersebut berbentuk persegi dengan latar putih dengan 3 bendera merah putih berkibar di bagian atasnya dan logo PPPA Daarul Qur’an di sampingnya dengan ukuran kecil. Tepat di bawah bendera, ada foto Ustadz Yusuf Mansur dengan mode grayscale dalam pose tangan kiri memegng mic dan tangan kanan menunjuk kearah depan. Disamping foto itulah terdapat tulisan yang tertulis di atas. Bagi saya, gambar ini seperti memuat teks proklamasi kemerdekaan kita sebagai mahluk ciptaan Allah. 

“MERDEKA itu adalah ketika menjadi hamba Allah saja. Hanya Allah yang kita taati, turuti, dan patuhi. Hanya Allah yang Paling Besar, Paling Tinggi, dan Paling Mulia”. Selama ini kita mengartikan kata Merdeka hanya sebatas pada ukuran dunia bahwa kita sudah tak lagi dijajah oleh bangsa asing. Kita juga sering mengartikan kata Merdeka sebagai bentuk kebebasan bagi diri kita. Kita menganggap ketika kita sudah meiliki status Merdeka, maka kita bebas melakukan apapun yang kita mau dengan cara yang kita suka. Tapi ternyata kita tak bisa demikian. Kita masih “terjajah” oleh banyak hal terutama pikiran kita sendiri.

Secara tidak sadar, pikiran kita terpola mengikuti pemikiran secara umum, terlepas dari baik atau tidak, benar atau salah, pikiran tersebut. Sebagai contoh, ketika kita sakit, atau ketika anak kita sakit, maka pertanyaannya, apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita? Sebagian besar kita akan menjawab sama “pergi ke dokter” atau “beli obat ini”. Ketika ban kendaraan kit tiba-tiba kempes atau bocor di tengah perjalanan, apa yang kita ingat? Tentu saja akan banyak yang menjawab “tukang tambal ban”. Apakah pemikiran itu salah? Secara umum pemikiran tersebut tidaklah salah. Namun, bukankan ketika kita mendapat musibah atau mendapat nikmat, hal yang pertama kita ingat adalah Allah? Dimana kita meletakkan Allah? Menjadi yang pertama yang kita minta pertolongan ketika sakit terjadi atau menjadi yang paling terakhir dalam doa ketika tak ada lagi dokter yang mampu menolong?

Lantas, bagaimana kita menjadikan Allah yang pertama? Ketika sakit cobalah ucapkan “Ya Allah aku sakit, aku mohon kepada-Mu ampunan-Mu, mungkin sakit ini karena kesalahan yang aku perbuat, Aku juga mohon kesembuhan kepada-Mu. Aku akan ikhtiar ke dokter, semoga Engkau ridhoi ikhtiarku berobat ke dokter”. Cobalah mulai saat ini, kita bersama-sama menjadikan Allah yang pertama. Kita MERDEKA-kan diri kita dari belenggu pikiran kita yang membuat kita secara tidak sadar menjadi hamba duit, hamba jabatan, hamba waktu, hamba nafsu, dan hamba-hamba lainnya. Selalu ingat bahwa kita ini hanya Menghamba pada Allah Subhanahu Wata’ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar