Bismillahirrahmannirrahim
Allah berfirman:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(QS: Al-Baqarah Ayat: 186)
Nah, udah jelas banget nih dari ini Ayat
1. Emang sekarang banyak banget orang yang nanya-nanya, terutama kita-kita yang masih belajar. Murid les saya aja nanya "Sebelum Allah ada apa?" "Allah ada dimana?" "Allah tuh kaya gmana?"dan banyak lagi pertanyaan. Saya sih seneng-seneng aja murid saya nanya kaya gitu, karena artinya dia berfikir akan Allah, ia beragama dengan berpikir, bukan seperti banyak pengikut buta. Cuma agak bingung juga jawabnya. Satu hal yang saya pasti jawab adalah "otak kita ga didisain buat mikir kaya gitu saat ini" trus saya sambung jawabannya deh ayat itu. Baru kenalin dia sama Allah (ala-ala pelajaran agama campur fisika) :D
2. Allah ngabulin do-doa orang yang berdoa kepadaNya dan satu hal yang pasti Allah ga bisa lakuin adalah ingkar janji, jadi Allah pasti emang bener-bener ngabulin doa kita, tapi dengan beberapa syarat:
Loh kok pake syarat segala yak? Iyap, walaupun Allah ga butuh aa-apa
dari kita, but, Allah ingin liat seberapa keras kita mau doa itu Allah
wujudin.
a. Kita harus berdoa. Percaya ga, kita ini terlalu sombong untuk berdoa, abis sholat wajib, langsung pergi, coba diinget-inget, dalam 24 jam/7 hari sepekan, kapan aja kita berdoa?
b. Memenuhi perintah Allah, Nah ini nih, Allah emang Mahakaya, dia kalo mau kasih mah, tinggal kasih aja, cuma Allah mau kasih, tergantung gmana usaha kita mewujudkan doa kita. Kita berdoa, cuma duduk manis aja, perintah-perintah Allah ga kita kerjain, Lah ... jangan salahkan Allah kalo begitu :D
c. Berdoanya ke Allah aja, jangan minta2 ke yang lain. Lagi butuh banget uang, pengen lunasin utang, udah berdoa sama Allah, trus kerjain perintah-perintah Allah, jangan udah berdoa sama Allah, eh trus masih nyari pinjeman sana-sini seakan-akan kita ga percaya kalo Allah bakal bantu ngelunasin utang kita. Lah kalo ga percaya sama Allah, artinya ga beriman sama Allah dong??
Nah jadi, ayo dah biar doa kita sama Allah dikabulin, kita terus berdoa, terus minta sama Yang Punya Segala Sesuatu, Allah SWT, Penuhi semua perintahnya, trus Yakin (ga cuma percaya) kalo Allah pasti bantu
NB: Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman orang-orang yang doanya dikabulkan sama Allah
TRY IT AND YOU WILL GET WHAT YOU WANT
Blog ini dimaksudkan untuk membagi pemikiran pemikiran yang out of box but still in the room yang tertuang dalam tulisan-tulisan ringan.
Cari Blog Ini
Tampilkan postingan dengan label sabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sabar. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 02 Mei 2015
Minggu, 28 Agustus 2011
Air dan Api
Air adalah zat yang tersusun dari ikatan dua unsur hidrogen dan satu unsur oksigen. Sedangkan api adalah oksigen yang memanas yang memancarkan energi yang cukup tinggi.
Selama ini kita tahu bahwa ungkapan "bagai air dan api" adalah ungkapan yang memiliki arti hubungan yang sulit bahkan tidak mungkin bersatu. Hubungan yang satu akan mengalahkan yang lain dalam jika jumlah mereka lebih besar.
Dalam filosofi api sering dikaikan dengan sifat liar dan sifat keberanian, sedangkan air yang dingin menunjukkan kelenturan, keakraban, dan ketenangan.
Mungkin orang selalu berpikir air dan api adalah hubungan yang tidak menguntungkan. Tapi pernahkah kita melihat dari sisi yang berbeda. Saya bisa katakan mereka bukan saling bermusuhan, melainkan saling melengkapi. Zaman dulu, tak akan ada air panas, tanpa adanya api baik dalam bentuk api kompor atau api gunug (read: magma). Pembuatan uap air pun membutuhkan air yang lebih banyak dari hasil pemanasan air oleh api.
Itu lah yang kadang kita jarang lakukan, melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Pemikiran kita cenderung berada pada posisi dimana kita berpikir langsung atas apa yang kita lihat, Tak jarang pemikiran ini menimbulkan reaksi negatif.
Sekarang apa yang kita pikirkan atas masalah-masalah ini:
1. Lima rumah di kecamatan X habis terbakar pada peristiwa kebakaran kemarin
2. 10 orang dari 1000 pelamar pekerjaan di perusahaan Y akan diterima
3. Dompet kita dicopet, uang sebesar Rp 350.000,- dan surat-surat penting lainnya ada di dalamnya.
Bagaimana/ Apa tanggapan kita?
Mungkinkah apa yang kita pikirkan sama
Untuk masalah pertama sesaat akan terlintas, kasihan sekali yang punya rumah, pasti sedih banget, apa lagi mau lebaran. Tidak ada yang salah dengan pemikiran tersebut, tapi coba simak pemikiran ini, Alhamdulillah masih banyak rumah yang ga kebakar, jadi masih bisa menolong orang-orang yang rumahnya kebakar, seenggaknya bisa membantu menghibur mereka. Bagaimana?
Untuk masalah kedua dan ketiga tentunya kita juga sudah tau apa yag akan kita pikirkan. Dari pada berpendapat kasihan yang 990 orang belum dapet kerja, lebih baik kita bersyukur Alhamdulillah ada 10 orang yang ketrima, pengangguran berkurang sedikit. semoga 10 orang tadi akan bekerja maksimal sehingga perusahaannya makin besar dan membutuhkan orang lagi sehingga yang 990 orang bisa di ajak lagi. Amin. Lalu daripada larut memikirkan hilangnya dompet beserta uang dan surat berharga, lebih baik kita syukuri nyawa dan keimanan kita masih ada di dalam raga ini, belum ada yang nyopet kan?
So. change your lens to change your world.
Berpikir positif yuk (berpikir positif: kalo ga ada yang baca nih blog, seenggaknya penulisnya dah baca, Alhamdulillah :-) )
Selama ini kita tahu bahwa ungkapan "bagai air dan api" adalah ungkapan yang memiliki arti hubungan yang sulit bahkan tidak mungkin bersatu. Hubungan yang satu akan mengalahkan yang lain dalam jika jumlah mereka lebih besar.
Dalam filosofi api sering dikaikan dengan sifat liar dan sifat keberanian, sedangkan air yang dingin menunjukkan kelenturan, keakraban, dan ketenangan.
Mungkin orang selalu berpikir air dan api adalah hubungan yang tidak menguntungkan. Tapi pernahkah kita melihat dari sisi yang berbeda. Saya bisa katakan mereka bukan saling bermusuhan, melainkan saling melengkapi. Zaman dulu, tak akan ada air panas, tanpa adanya api baik dalam bentuk api kompor atau api gunug (read: magma). Pembuatan uap air pun membutuhkan air yang lebih banyak dari hasil pemanasan air oleh api.
Itu lah yang kadang kita jarang lakukan, melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Pemikiran kita cenderung berada pada posisi dimana kita berpikir langsung atas apa yang kita lihat, Tak jarang pemikiran ini menimbulkan reaksi negatif.
Sekarang apa yang kita pikirkan atas masalah-masalah ini:
1. Lima rumah di kecamatan X habis terbakar pada peristiwa kebakaran kemarin
2. 10 orang dari 1000 pelamar pekerjaan di perusahaan Y akan diterima
3. Dompet kita dicopet, uang sebesar Rp 350.000,- dan surat-surat penting lainnya ada di dalamnya.
Bagaimana/ Apa tanggapan kita?
Mungkinkah apa yang kita pikirkan sama
Untuk masalah pertama sesaat akan terlintas, kasihan sekali yang punya rumah, pasti sedih banget, apa lagi mau lebaran. Tidak ada yang salah dengan pemikiran tersebut, tapi coba simak pemikiran ini, Alhamdulillah masih banyak rumah yang ga kebakar, jadi masih bisa menolong orang-orang yang rumahnya kebakar, seenggaknya bisa membantu menghibur mereka. Bagaimana?
Untuk masalah kedua dan ketiga tentunya kita juga sudah tau apa yag akan kita pikirkan. Dari pada berpendapat kasihan yang 990 orang belum dapet kerja, lebih baik kita bersyukur Alhamdulillah ada 10 orang yang ketrima, pengangguran berkurang sedikit. semoga 10 orang tadi akan bekerja maksimal sehingga perusahaannya makin besar dan membutuhkan orang lagi sehingga yang 990 orang bisa di ajak lagi. Amin. Lalu daripada larut memikirkan hilangnya dompet beserta uang dan surat berharga, lebih baik kita syukuri nyawa dan keimanan kita masih ada di dalam raga ini, belum ada yang nyopet kan?
So. change your lens to change your world.
Berpikir positif yuk (berpikir positif: kalo ga ada yang baca nih blog, seenggaknya penulisnya dah baca, Alhamdulillah :-) )
Langganan:
Postingan (Atom)